Monday, August 8, 2016

Waktu Dimana Seorang Perokok Merasa Harus Merokok

Percaya atau tidak, seorang perokok tidak mengisap asap rokoknya sepanjang hari. Ada waktu-waktu tertentu dimana dorongan begitu kuat sehingga seorang perokok merasa harus merokok.

Tidak selalu seperti kebanyakan orang pikir, dorongan itu biasanya hadir pada saat-saat tertentu. Tidak jarang karena terulang pada waktu yang sama, dorongan itu bagai memiliki jadwal sendiri untuk hadir.

Pembentukan jadwal ini dipengaruhi oleh banyak hal. Seorang perokok yang bekerja di gedung bertingkat, dimana ada larangan merokok akan memiliki pola atau jadwal berbeda dengan mereka yang kerja di lapangan. Tetapi, pada dasarnya dorongan untuk merokok itu akan hadir berulang kali, hampir pada saat yang sama.

Nah, kira-kira kapan sih seorang perokok merasa "harus" merokok alias ketika dorongan itu begitu kuatnya?

Mungkin pengalaman pribadi dan juga pengamatan terhadap rekan-rekan sesama perokok bisa memberikan gambaran tentang "jadwal' yang disebutkan di atas.

Waktu Dimana Harus Merokok

Kalau Anda bukan perokok, jangan dicoba yah. Anda tidak diharuskan untuk itu. Tujuan saya menuliskan pengalaman ini bukan untuk mengundang Anda merokok, tetapi justru sebaliknya.

Anggaplah ini pengetahuan yang mungkin bisa bermanfaat. Kalau dipikir kembali, saya merasa pengetahuan tentang pola seorang perokok akan sangat membantu untuk menghentikan kebiasaannya itu. Perubahan dalam jadwal dan mengatur jadwal dorongan untuk mengisap asap rokok bisa menjadi kunci dalam usaha keluar dari kungkungan rokok.

Ada beberapa saat di mana seseorang merasa terdorong untuk menikmati asap rokoknya.

1) Setelah Makan

Mulut asem. Itu istilah para perokok setelah makan.

Rasa enak makanan rupanya terasa aneh bagi seorang perokok. Ia lebih terbiasa dengan sisa-sisa rasa rokok di mulutnya sepanjang hari.

Gurihnya rendang. Manisnya kecap. Pedasnya sambal.

Semua bukanlah hal yang diinginkannya. Aroma dan rasa rokok adalah "rasa" yang menurutnya lebih disukai dibandingkan rasa makanan.

Rasanya, itulah yang menyebabkan seorang perokok akan bergegas keluar ruangan setelah menghabiskan makannya. Untuk kembali menemukan rasa yang menjadi bagian dari dirinya, rasa rokok.

2) Saat sendiri dan bengong

Tidak ada teman bicara. Tidak ada sesuatu yang bisa dikerjakan.

Lalu apa yang harus dilakukan?

Ya merokok lah.

Kesendirian dan tanpa ada kegiatan sama sekali menciptakan sebuah ruang kosong yang memicu otak untuk mencari sesuatu untuk mengisinya. Karena otak seorang perokok terbiasa dengan kegiatan mengisap asap tembakau itu, maka merokok akan keluar yang paling pertama.

Dorongan itu akan kuat sekali di saat sedang sendiri dan tidak punya kegiatan apapun

3) Saat bangun tidur

Sesaat setelah bangun tidur  biasanya mulut kering. Rasa pahit akan terasa pada saat seperti itu.

Pemecahannya?

Bagi seorang perokok yang otaknya terbiasa dengan aroma "pahit" tetapi "manis" rokok, akan disodori pilihan untuk "merokok".

Bahkan  setelah rasa pahit itu hilang dengan minum air putih, pesan otak untuk merokok tetap sudah hadir dan menjadi dorongan.

Saya harus merokok. Begitulah kata si otak.

4) Saat nongkrong dengan teman

Ini situasi yang paling berbahaya sebenarnya. Ngobrol seru ngalor ngidul tentang bola bersama teman, terutama yang juga perokok merupakan sebuah pancingan yang akan menghasilkan dorongan untuk merokok.

Tidak terasa karena asyiknya, biasanya seorang perokok akan lebih tidak terkontrol dalam kondisi seperti ini. Beberapa batang bisa dihabiskan selama perbincangan masih ada.

5) Saat tertekan

Entah karena pekerjaan atau apapun, tekanan terhadap seorang perokok akan mendorongnya untuk mencari pelepasan.

Cara pelepasan yang berada di puncak top list adalah dengan merokok. Otomatis karena kebiasaan tadi otak perokok akan selalu menempatkan merokok sebagai pilihan pertama.

Stress atau tekanan adalah pemicu yang luar biasa untuk menimbulkan dorongan kuat untuk merokok.

Saya membuktikannya sendiri. Silakan baca di Stress Penyebab Merokok - Terbukti!

6) Saat Buang Air Besar (BAB)

Pasti bingung kalau saat sakit perut dan ingin BAB justru ada orang yang sibuk mencari rokok dulu.

Kenyataannya, saya sudah berulangkali menemukan kalau kebutuhan untuk BAB terkadang bisa terhambat karena harus disertai rokok.

Mungkin karena selama BAB tidak ada hal yang bisa dilakukan dan tidak ada yang menemani (siapa juga yang mau menemani dalam WC), maka ada orang yang harus ditemani oleh merokok.

Cuma efeknya, ada orang yangorang tersebut akhirnya menjadi terbiasa dan justru sulit BAB kalau tidak sambil mengisap rokok.

7) Saat sedang berpikir atau bekerja

Bengong merokok. Kebanyakan waktu luang merokok.

Nah, sekarang kalau sedang bekerja atau berpikir kenapa juga merokok. Padahal tidak ada waktu luang dan juga tidak sedang bengong.

Good question. Pertanyaan yang bagus.

Tetapi, kenyataannya memang begitu. Terutama untuk mereka yang berada di lapangan atau bekerja di dalam ruangan yang diperbolehkan merokok.

Mungkin karena ada unsur tekanan kepada otak untuk menyelesaikan pekerjaan, ia juga memberikan sinyal yang tentang kebutuhan akan pelepasan.

Itulah yang menghadirkan sinyal dan dorongan yang membuat seorang perokok merasa harus merokok.

8) Saat tugas atau pekerjaan selesai (merayakan sesuatu)

Bebas.

Lepas.

Lega.

Berarti harus dirayakan. Caranya? Ya dengan merokok.

Rokok juga merupakan cermin kelegaan ketika seorang perokok menyelesaikan sebuah tugas atau pekerjaan.

Dorongan yang hadir dari perasaan lega itu cukup kuat untuk memaksa seorang perokok menyalakan sebatang rokok.

9) Saat Minum Kopi

Kopiku kental. Rokokku mantap.

Begitu bunyi sebuah iklan di masa lalu, saat iklan rokok tidak sehalus sekarang.

Bagi seorang perokok kawakan, merokok tanpa kopi hitam nan kental rasanya kurang lengkap.

Begitu juga kalau dibalik, meneguk kopi tanpa ditemani kebulan asap rokok, juga rasanya gimana gitu.

Tidak mantap.

Entah apa alasannya. Mungkin kafein memberikan dorongan bagi otak perokok agar segera mencari kawannya, si nikotin. Mungkin juga si nikotin menyuruh otak menemukan pasangannya si kafein.

Yang pasti, kebanyakan perokok akan merasa lebih nikmat ngopi dan merokoknya kalau keduanya hadir bersamaan.

10) Saat cuaca dingin

Kalau udara dingin, yang terbaik seharusnya masuk ke dalam ruangan agar terhindar dari cuaca dingin.

Minuman yang hangat dan pakaian tebal bisa membantu.

Tetapi, bagi seorang perokok, sebatang rokok seperti dianggap bisa menghalau rasa dingin itu.

Entahlah kenapa, mungkin efek dopamin yang terkandung dalam rokok menutupi sinyal rasa dingin dan dia merasa hangat?

Hanya demikianlah kenyataannya. Cuaca dan udara dingin adalah saat dimana dorongan untuk merokok menjadi sangat kuat.

Padahal bara apinya tidak akan bisa menghangatkan badan. Paling yang terasa hangat adalah bagian mulut saja.


Nah, kira-kira itulah saat dimana seorang perokok merasa harus merokok.

Yang mana yang terjadi pada diri saya?

Kecuali yang no 6), saya merasakan kesemua itu. Kalau yang no 6) , sekalipun saya belum pernah melakukannya. Entah kenapa. Mungkin terlalu sibuk sama rasa sakit di perut membuat dorongan itu tidak keluar.

O ya di bagian atas saya sebutkan bahwa dengan mengetahui pola atau jadwal merokok seseorang, bisa menjadi kunci usaha menghentikan kebiasaan merokok.

Memang betul. Akan saya jelaskan pemikiran saya dalam artikel terpisah nanti, tetapi intinya, seorang perokok atau orang di sekelilingnya, bisa melihat tanda-tanda itu berdasarkan situasi. Dengan mengetahuinya bisa diambil langkah untuk "menunda" atau "menahan" dorongan itu agar terlupakan atau terlalu kuat.

Mudah diucapkan tetapi sulit dijalankan.

Mudah-mudahan saya bisa menjabarkannya dengan baik di tulisan berikutnya tentang hal ini. Ditunggu ya.








Artikel Terkait


EmoticonEmoticon